Sejarah Malifut
Terbentuknya
kecamatan Malifut berawal dari peristiwa letusan hebat gunung Makian
pada 1975 yang lantas memaksa para penduduk pulau Makian untuk mengungsi
dan menempati pemukiman baru yang disediakan pemerintah bagi mereka
yakni di sebelah selatan wilayah Kao.
Kehadiran para transmigran Makian di wilayah Kao rupanya menimbulkan
pertentangan dengan penduduk setempat. Terlebih lagi saat emas mulai
ditemukan di daerah itu. Di akhir dekade 1990-an, sejarah mencatat bahwa
pernah terjadi konflik sosial antara penduduk asli Kao dan Makian.
Sejarah Kao semasa PD II
Sejarah Kao semasa PD II
Wilayah
Kao yang terletak di teluk dengan nama yang sama tidak hanya menyimpan
banyak relik perang dunia II namun juga memiliki pantai dan pulau
berpasir putih yang indah.
Wilayahnya yang luas (1.364 Km2) terdiri dari Kao, Kao Utara, Kao Barat,
Kao Teluk dan Malifut. Di wilayah ini juga terdapat kota Kao, meskipun
hiruk-pikuk kehidupan lebih terasa di Malifut yang berjarak hanya
beberapa Km di selatannya. Dahulu antara tahun 1942-1945, wilayah Kao
merupakan basis pertahanan bagi ribuan tentara Jepang. Malahan setelah
kekalahan Jepang dalam aksi di Nugini, pasukan Jepang mundur untuk
berkonsolidasi di sini. Jepang akhirnya menempatkan sebanyak 42.000
prajurit di Kao, sedangkan sejumlah lainnya yang mencapai 20,000 di
bagian dalam teluk. Dengan agak bercanda, Kao pada masa itu bahkan
disebut-sebut sebagai "Tokyo Kecil" atau "Tokyo Kedua".
Ada sekitar 300 pesawat pengebom Jepang yang ditempatkan di landasan
pacu yang dibangun sedikit di luar Kao dan dilindungi oleh lebih dari 60
meriam anti-pesawat udara kelas berat, banyak lampu penerang dan
berunit-unit mobil. Tua-tua lokal yang masih mengingat dengan baik masa
peperangan, mengatakan saat itu ada terlalu banyak kapal yang terparkir
di perairan Kao untuk dapat dihitung.
Jepang menikmati kehidupan yang nyaman di Kao sampai pada masa mendekati
akhir perang. Lebih dari 100 budak perempuan, dari Hongkong, Singapura,
Cina, Jawa dan Manado, ditempatkan di "barak hiburan" khusus. Sampai
akhirnya Jenderal Douglas MacArthur yang kemudian memilih Morotai
sebagai batu loncatan bagi pasukan Sekutu berhasil membawa pasukan
Sekutu berbalik mengungguli kekuatan instalasi udara Jepang di Kao yang
dapat mereka hancurkan dengan cepat.
Walaupun kebanyakan dari relik perang telah diambil dan dihilangkan,
empat meriam anti-pesawat terbang kelas berat masih dapat ditemukan
dalam posisi sedang mengarah ke langit dengan maksud melindungi sisi
sebelah barat dari lokasi dimana pangkalan udara Jepang dibangun. Pada
tahun 1986, sebagian kecil dari kompleks multi-landasan itu direkondisi
dan diganti namanya menjadi Kuabang Kao, berdasarkan nama seorang
pahlawan lokal yang anti penjajahan Belanda. (sumber: buku Maluku,
Indonesian Spice Islands, Periplus 1997)
Kao dan Malifut Saat Ini
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.
Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.
Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI
Kao dan Malifut Saat Ini
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.
Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.
Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI


