Minggu, 11 Januari 2015

Malifut & Kao - Maluku Utara

Group COSTUM 013


Like Facebook
"Jangan Sampai Generasi Muda Sekarang Lupa pada Sejarah!"


Sejarah Malifut  
Terbentuknya kecamatan Malifut berawal dari peristiwa letusan hebat gunung Makian pada 1975 yang lantas memaksa para penduduk pulau Makian untuk mengungsi dan menempati pemukiman baru yang disediakan pemerintah bagi mereka yakni di sebelah selatan wilayah Kao. Kehadiran para transmigran Makian di wilayah Kao rupanya menimbulkan pertentangan dengan penduduk setempat. Terlebih lagi saat emas mulai ditemukan di daerah itu. Di akhir dekade 1990-an, sejarah mencatat bahwa pernah terjadi konflik sosial antara penduduk asli Kao dan Makian.

Sejarah Kao semasa PD II 
Wilayah Kao yang terletak di teluk dengan nama yang sama tidak hanya menyimpan banyak relik perang dunia II namun juga memiliki pantai dan pulau berpasir putih yang indah. Wilayahnya yang luas (1.364 Km2) terdiri dari Kao, Kao Utara, Kao Barat, Kao Teluk dan Malifut. Di wilayah ini juga terdapat kota Kao, meskipun hiruk-pikuk kehidupan lebih terasa di Malifut yang berjarak hanya beberapa Km di selatannya. Dahulu antara tahun 1942-1945, wilayah Kao merupakan basis pertahanan bagi ribuan tentara Jepang. Malahan setelah kekalahan Jepang dalam aksi di Nugini, pasukan Jepang mundur untuk berkonsolidasi di sini. Jepang akhirnya menempatkan sebanyak 42.000 prajurit di Kao, sedangkan sejumlah lainnya yang mencapai 20,000 di bagian dalam teluk. Dengan agak bercanda, Kao pada masa itu bahkan disebut-sebut sebagai "Tokyo Kecil" atau "Tokyo Kedua". Ada sekitar 300 pesawat pengebom Jepang yang ditempatkan di landasan pacu yang dibangun sedikit di luar Kao dan dilindungi oleh lebih dari 60 meriam anti-pesawat udara kelas berat, banyak lampu penerang dan berunit-unit mobil. Tua-tua lokal yang masih mengingat dengan baik masa peperangan, mengatakan saat itu ada terlalu banyak kapal yang terparkir di perairan Kao untuk dapat dihitung. Jepang menikmati kehidupan yang nyaman di Kao sampai pada masa mendekati akhir perang. Lebih dari 100 budak perempuan, dari Hongkong, Singapura, Cina, Jawa dan Manado, ditempatkan di "barak hiburan" khusus. Sampai akhirnya Jenderal Douglas MacArthur yang kemudian memilih Morotai sebagai batu loncatan bagi pasukan Sekutu berhasil membawa pasukan Sekutu berbalik mengungguli kekuatan instalasi udara Jepang di Kao yang dapat mereka hancurkan dengan cepat. Walaupun kebanyakan dari relik perang telah diambil dan dihilangkan, empat meriam anti-pesawat terbang kelas berat masih dapat ditemukan dalam posisi sedang mengarah ke langit dengan maksud melindungi sisi sebelah barat dari lokasi dimana pangkalan udara Jepang dibangun. Pada tahun 1986, sebagian kecil dari kompleks multi-landasan itu direkondisi dan diganti namanya menjadi Kuabang Kao, berdasarkan nama seorang pahlawan lokal yang anti penjajahan Belanda. (sumber: buku Maluku, Indonesian Spice Islands, Periplus 1997)
Kao dan Malifut Saat Ini
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.

Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI

Kao dan Malifut Saat Ini
Baik penduduk Kao dan Malifut sudah melupakan pertikaian masa lampau dan saat ini hidup berdampingan dengan damai. Kao sendiri merupakan pintu masuk utama transportasi udara di Halmahera Utara.

Populasi di wilayah Kao tercatat 45.168 jiwa (2012). Suku Kao yang merupakan penduduk asli wilayah ini berbicara dalam bahasa Pagu dan Modole. - See more at: http://www.halmaherautara.com/kaom/panduan-perjalanan-di-wilayah-kao-&-malifut#.VLK58Xs8XJI

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates